Minggu, 20 Maret 2011

Menunggu Generasi Damai di Tanah Konflik


Agus Wahyuni
Borneo Tribune, Sambas
Ketika anak terlahir di dunia, rasa keingintahuan pada lingkungan sekitar menjelma pada dirinya. Saat berinteraksi, cepat atau lambat, si anak akan mengenal konflik dikehidupannya. Bisa berkelahi dengan teman, permusuhan, saling memukul, dan lain sebagainya. Seharusnya, anak-anak ini bisa tahu apa yang mesti dilakukan saat berada dalam situasi konflik. Tapi hal itu tidak didapat pada anak yang dibesarkan di lingkungan yang pernah terjadi konflik, yakni kerusuhan antar etnis di kabupaten Sambas, pada 1999.
Sandi (11) sudah berpisah dengan kedua orang tuanya, sejak usianya baru menginjak tiga puluh hari, paska tragedi kerusuhan antar etnis di kabupaten Sambas, sebelas tahun lalu. Ia ditemukan salah satu desa, kecamatan Pemangkat, dalam keadaan terlanjang, di dalam pondok, beratap daun, di tengah pematang sawah.
Saat melakukan penyisiran, Amat (55), bersama beberapa warga secara kebetulan melintas, mendengar ada tangisan bayi. Situasinya sepi, hanya terlihat hamparan sawah, dan sebuah pondok. Lalu, didekati pondok itu, didalamnya ternyata ada bayi, menangis, terlentang di lantai pondok, tanpa orang tua.
Merasa tak tega, bayi itu lalu dibawa ke kecamatan Tebas, berharap bayi itu bisa diserahkan pada siapa yang ingin merawat bayi itu. Kebetulan, ada pasangan suami istri, mencari bayi untuk diangkat dijadikan anak. Pasangan suami istri tersebut adalah Hasanudin ( 44) dan Fariyah (43), warga desa Tebas Kuala, kecamatan Tebas, masih keluarga dekat Amat.
Fariyah ingat, saat Amat menyerahkan bayi itu padanya. Ia sempat melihat kondisi fisik bayi. Apakah ada cacat atau tidak, mulai dari ujung kaki ke ujung kaki. “ Bayinya sehat, tidak ada cacat, “ kata Fariyah. Bahkan fisik bayi terlihat kekar, dan berotot. Setelah itu bayi dibawa pulang ke rumahnya, lalu diberi nama Sandi.
Sebelas tahun sudah berlalu, Sandi tumbuh sebagai anak sehat dan suka bergaul dengan teman sesamanya. Selama ini ia hanya tahu orang tuanya, yang merawatnya sekarang. Kini ia duduk di bangku kelas 3 sekolah dasar negeri sembilan, kecamatan Tebas, kabupaten Sambas.
Ia pernah bersedih dan menitikkan air matanya ketika Sandi pernah menayakan keberadaan orang tuanya yang asli. Saat itu ia sedang memasak di dapur. Bak disambar petir, saat Sandi menghampirinya dan mengatakan hal itu.
Ada beberapa temannya berkata bahwa Sandi anak angkat. Fariyah berkata, “dari mana Sandi tahu. ”Jawabnya, dari teman. Fariyah langsung menangis. Dan ia pun balik mengatakan, “Sandi anak emak yang asli. Jangan percaya sama teman, percayalah pada emak.” Sandi dipeluknya. Sejak itu, pergaulannya selalu ia awasi, dengan siapa dan kemana Sandi bermain.
Pada pertengahan Oktober 2009, mendadak perasaan Fariyah tidak enak, siang itu, seharusnya Sandi pulang sekolah, dan berada di rumah, pukul 11.00. ”Saya menunggu anak saya, tapi hingga sore belum juga datang,“ katanya.
Ia mencarinya, menanyakan orang terdekat yang melihat Sandi. Ada salah satu tetangga kebetulan melihatnya siang itu. Sandi digonceng oleh seseorang menggunakan sepeda motor. Tapi tetangganya tidak kenal, siapa pemuda itu. Mendengar cerita tadi, Fariyah menyuruh suaminya untuk mencari keberadaan Sandi, bersama warga lainnya. Sementara Fariyah masih menunggu di rumah.
Pukul 17.00, Sandi pulang ke rumah. Ia melihat badan anaknya lusuh, dengan muka lebam. Ia tanyakan dari mana, anaknya berkata, ”Tadi Sandi disekap dan dipukul mak.”
Ia meminta Sandi melanjutkan ceritanya. Saat pulang sekolah, tiba- tiba ada seorang pemuda menuduhnya mencoret sepeda motor miliknya. Padahal Sandi tidak melakukannya. Pemuda itu terus menuduhnya, lalu dibawa menggunakan sepeda motor menuju ke semak- semak, di kota Sambas, sekitar 15 kilometer dari lokasi sekolah Sandi.
Lantas, tangan Sandi diikat, lalu dipukul dan ditampar wajahyna dengan telapak tangan pemuda itu, hingga memar. Merasa cukup puas, Sandi dibawa kembali pulang ke Tebas. Dari ceritanya, Fariyah langsung melaporkan pada polisi. Hingga sekarang belum diketahui siapa pelakunya.
Sandi sebenarnya anak yang pintar, di sekolah ia sering mendapat peringkat 3- 6 setiap menerima raport di kelas. Namun, dalam hal pengawasan belajar, Sandi kurang mendapat binaan dari orang tuanya. Dan itu diakui Fariyah. “Saya ini hanya sekolah tamatan SD,” kata Fariyah. Jadi tidak tahu apa yang mesti diajarkan pada Sandi. Sementara ayahnya sering berada di luar kota, karena berwirausaha disana. Untuk mengawasi Sandi belajar tidak ada. ”Jadi Sandi hanya bisa belajar sendiri di rumah,” katanya.
Jika waktunya bermain, Sandi dibolehkan bermain tapi di lingkungan terdekat saja. Meski begitu, terkadang ia luput memantau Sandi. Akibatnya, Sandi pernah membuat ulah. Saat itu, ia sedang bermain kejar-kejaran sesama teman bermainnya, juga teman sekelasnya. Mendadak, canda tawa riang anak- anak berbuah keributan. Terjadi perkelahian antara Sandi dan temannya. Seketika itu, Sandi langsung melempar batu segepal tangan, tepat mengenai kepala temannya, lalu jatuh pingsan. Ia dan orang tua korban datang ke lokasi. Melihat kepala anak itu sudah berlumuran darah, “saya kaget sekali, dan langsung menyuruh orang tuanya agar anaknya segera dibawa ke ruma sakit,” kata Fariyah.
Di rumah, ia melihat tingkah laku Sandi. Suka merenung. Diam. Barangkali ia menyesal telah berbuat seperti itu dengan temannya. Tapi Sandi tidak tahu harus melakukan apa setelah menjalani konflik.
***
Daerah Kalimantan Barat, pernah terjadi konflik yang besar, melibatkan antar etnis yang bertikai, pada 1999 di kabupaten Sambas. Sementara jumlah korban jiwa cukup banyak, dan yang mengungsi ke tempat aman, dengan meninggalkan daerah asalnya, mencapai ribuan.
Peristiwa itu,harusnya sudah direspon oleh pemerintah. Bagaimana ke depan tidak lagi adanya konflik serupa . Salah satunya melalui pendidikan pada anak bagaimana menanamkan nlai-nilai perdamaian pada anak.
Namun, untuk mewujudkannya tampaknya masih jauh dari harapan. Terkesan pemerintah menganggap pendidikan seperti itu masih belum perlu. Padahal anak adalah bibit generasi di masa mendatang yang akan melanjutkan estafet roda kehidupan, tentulah harus mendapatkan porsi pupuk yang begitu banyak guna menyuburkannya sebagai tunas yang unggul yang akan membuahkan hasil yang berkualitas bagi kelangsungan hidup di masa mendatang.
Safitri, guru SDN Sambas bercerita, selama tiga tahun ia mengajar, belum pernah mengajarkan siswanya tentang materi perdamaian atau menanamkan nilai-nilai perdamaian pada anak. Selama ini materi yang diajarkan lebih banyak pada dasar ilmu pengetahuan, seperti berhitung, pengetahuan alam, sosial, dan pengenalan bahasa. Tujuannya, bagaimana cara agar siswanya bisa menyerap dan memahami mata pelajaran yang diajarkan, karena mata pelajaran itu adalah mata pelajaran yang akan diujian.
Anida, guru SMP Tebas, pendapatnya sama, baru dua tahun ia diangkat menjadi pegawai negeri sipil,untuk guru IPA, sama sekali belum pernah memberikan materi tentang perdamaian konflik anak.
Sepengetahuannya, materi kurikulum tentang menangani perdamaian konflik di sekolahnya masih belum ada. Dan ia bersama guru lainnya hanya mengajarkan sesuai kurikulum yang dibuat, dengan mengacu pada materi ujian nasional, katanya.
Kepala bidang pendidikan formal dan informal, dinas Pendidikan Sambas, Karman mengakui Sambas masih belum ada materi pendidikan perdamaian konflik yang disampaikan di sekolah Sambas. Namun, secara tidak langsung, kita sudah memberikannya, yakni melalui pendidikan anak usia dini (PAUD).
Baginya, dengan menanamkan pendidikan anak usia dini, berlahan kita bentuk karakter anak, karena dalam masa pertumbuhannya, si anak akan mengenal, bagaimana memiliki peran penting membentuk karakter anak.
Melalui PAUD, kita telah mengajari anak pada lingkungan sekitar. Misalnya saja, pada saat anak-anak bermain di sekolah Paud, anak bisa langsung berinteraksi dengan teman sekelasnya. Mengenal satu sama lain. Walauapun dalam bermain, ada perkelahian sesama anak, namun, adanya guru pendamping, perkelahian itu bisa dilerai, dan mengajarkan bagaimana mendamaikannya.
Tanpa pendidikan dini, anak sulit diarahkan sebagaimana tujuan hidup manusia. Dengan harapan, melalui Paud, anak akan lebih siap menempuh pendidikan formal tingkat dasar dan menengah.
Di kabupaten Sambas, setiap tahunnya jumlah PAUD semakin bertambah. Pada 2010, jumlah yang ada sebanyak 300 PAUD, sementara dana operasionalnya dibantu dari bank dunia dan Pemda Sambas.
Kabupaten Sambas juga ditunjuk sebagai penyelenggara PAUD terbaik nasional, dibanding kota lainnya yang menyelenggarakan PAUD serupa.
Sebenarnya, bagaimana konsep mewujudkan pembelajaran siswa dalam bentuk perdamaian konflik tidaklah sulit asal mendapat dukungan semua pihak, dan siap menjalankannya. Asalkan mau mencoba dan berusaha.
Menurut Eni Dewi Kurniawati, guru SMAN 2 Sambas, pernah juara 1 lomba kreatif ilmiah guru Kalbar, mengangkat tentang ”Meminimalisir konflik dan menumbuhkambangkan kesadaran pluralisme pada siswa”
Cara itu bisa efektif. Namun, penerapannya tidak sekedar transfer ilmu dari guru ke siswa, tetapi bersama-sama siswa melakukan infestigasi dan konstruksi pengetahuan yang menggiring kearah perubahan sikap dan prilaku yang positif.
Seperti dapat dilihat dalam menyelesaikan permasalahan yang muncul dengan adanya komunikasi yang baik dalam diskusi. Siswa lebih aktif dan kreatif menuangkan gagasan untuk mencari solusi dalam meredam konflik dan menumbuhkembangkan kesadaran pluralisme. Tujuannya, siswa dapat memahami perbedaan yang ada, sehingga konflik tak perlu terulang.
Menurutnya, konflik itu muncul karena kurangnya memahami kesadaran diri sendiri dan orang lain. Merasa diri paling hebat tanpa mengenal kompromi. Untuk itu, perlu mengamalkan segala aturan dan mematuhi segala larangan.
Sehingga tergambarlah sebuah pola pikir yang baik, bagaimana siswa mencoba memahami perbedaan yang ada dari berbagai segi kehidupan seperti, latar belakang sejarah perjuangan bangsa dalam mempersatukan bangsa Indonesia, falsafah Negara, kehidupan sosial, agama dan berbagai konflik yang terjadi di Indonesia sampai ke manca negara.
”Dengan begitu, betapa luasnya jangkauan dan pola pikir siswa memandang perbedaan dan konflik,” kata Eni.
Sementara ruang diskusi tidak hanya dilakukan di dalam kelas, tetapi bisa dimana saja, misalnya, ruang pertemuan, perpustakaan dan di tanah lapang. Suasana diskusi juga tidak mesti duduk di atas kursi, namun dapat dilakukan dengan cara duduk melingkar di lantai.
Ini salah satu cara untuk menyatukan perbedaan etnis diantara mereka. Sehingga ada kesan suasana menjadi santai, penuh kebersamaan dan kekeluargaan. Akan tetapi mereka dengan serius menanggapi berbagai persoalan yang dimunculkan.
Tentu, untuk menerapkan itu, harus mendapat dukungan dari kepiawaian guru dalam menyampaikan materi. Misalnya menggunakan bahasa tubuh, mewakili ekspresi siswa, memberikan penguatan pendapat siswa dalam bentuk pujian. Sehingga siswa memunculkan pertanyaan-pertanyaan yang memancing siswa lainnya dan fasilitator untuk meresponnya.
”Dengan begitu, tergambarlah pengalaman dan pengetahuan siswa tentang kesadaran dalam menghargai pluralisme dan meredam konflik,” kata Eni.
Pengamat pendidikan Universitas Tanjungpura, DR Aswandi mengatakan, semestinya pemerintah, dalam hal ini dinas pendidikan sudah memasukkan program pendidikan pada siswa, menanamkan perdamaian, bisa melalui pendidikan informal di sekolah.
Tapi sampai saat ini dinas pendidikan belum terbuka hatinya untuk melaksanakannya. Padahal kita sudah sampaikan di beberapa seminar, bagiamana mewujudkan tiap sekolah agar memasukkan materi pembelajaran perdamaian konflik, dengan mengundang dinas pendidikan, agar hal ini bisa diterapkan melalui kebijakannya.
“Lagi-lagi tidak direspon olehnya,“ kata Aswandi.
Ia sendiri sebenarnya sudah mempunyai konsep itu, untuk usia anak yang pas untuk mendapatkan pendidikan pedaiaman konflik adalah anak yang duduk di bangku sekolah dasar. Karena pada usia itu, karakter anak sudah mulai terlihat. Sebagai daerah yang sangat ideal untuk menerapkan pendidikan perdamaian pada anak ada di Kota Singkawang. Karena penduduk disana multi etnis, melayu, cina, dayak,madura, jawa, dan lainnya.
Bentuk pembelajarannya, dengan menyampaikan isu-isu tentang konflik, dan bagaimana cara menanggulanginya dengan pembelajaran berupa simulasi.
Lingkungan ‘dalam' dan ‘luar pagar' sekolah mempengaruhi perilaku siswa. Dan sekolah tempat konflik dalam berbagai bentuk dan melibatkan berbagai pihak. Supaya konflik tidak mengganggu siswa secara fisik maupun psikologis, maka konflik tersebut harus dikelola dengan tepat dan baik. Manajemen konflik berbasis sekolah adalah satu pendekatan yang perlu dilakukan di sekolah.
Metode seperti itu sudah digunakan banyak negara, ada beberapa sekolah di Indonesia yang menerapkannya. Metode ini berhubungan langsung dengan unsur pendidikan anak, yaitu keterampilan sosial (social skill) dan keterampilan hidup (life skill), dengan mengajarkan penghargaan kemajemukan dan perbedaaan di sekolah.
Agar sekolah bisa menerapkannya, ada beberapa hal perlu dipertimbangkan siswa, guru, dan kepala sekolah. Salah satunya, bagaimana merancang proses belajar dan mengajar yang tidak terpaku pada keterampilan akademik saja, dalam rangka mengejar target materi ajar. Komponen penting kurikulum pendidikan anak yaitu keterampilan sosial dan keterampilan hidup, perlu menjadi bagian integral dari kurikulum sekolah. Karena hal ini memberikan siswa kemampuan menghadapi masalah dan mengelola konflik.
Menanamkan pendidikan perdamaian anak di daerah pernah terjadi konflik, yakni kerusuhan antar etnis di kabupaten Sambas, Kalimantan Barat, pada tahun 1999, dipandang perlu, bagaimana menciptakan generasinya yang cinta damai. Namun wujud aksinya belum terlihat bagi pemegang kebijakan.

Menunggu Raja Cinta Damai
Pagi itu, Kamis (14/1), saya mengunjungi sekolah menengah pertama negeri 2, Sambas, di ruang kelas sembilan. Saya melihat Pangeran Ratu Muhamad Tarhan (14) terlihat serius menikmati pelajaram sekolah. Memasuki jam istirahat, ia keluar kelas, membaur dengan teman sekelasnya di kantin, dan di sekitar areal sekolah.
Di usianya yang masih anak-anak, Tarhan adalah calon pangeran, pemimpin kerajaan Istana Alwatzikhoebillah, Sambas, setelah ia dinobatkan pengganti almarhum Pangeran Ratu Winata Kesuma, ayah Tarhan yang wafat setelah menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit Umum Harapan Kita, Jakarta, Sabtu (2/2) 2008. Kabar wafatnya raja berumur 42 tahun karena komplikasi penyempitan pembuluh darah disertai penyakit jantung.
Saat itu Tarhan masih berumur (11 tahun), diusianya itu, dan ditinggal ayah tercintanya, tentu perasaan sedih yang amat mendalam pada dirinya. Apalagi ditambah dengan penobatan dirinya menjadi calon pemimpin di kerajaan Sambas. Tentu butuh bimbingan dan pengawasan selama masa pertumbuhannya, dibanding anak- anak lainnya. Bagaimanapun juga, ia adalah figure sekaligus pemimpin bagi kerajaan Sambas.
Namun dalam masa pertumbuhannya, bermain dan belajar, Tarhan tidaklah seperti calon raja lainnya di tanah Jawa. Harus mendapat perlakukan ekstra, baik dari segi pergaulan di lingkungannya, maupun dalam segi pembinaan padanya.
Saat ini pangeran diberlakukan sama dengan anak- anak lainnya, diberi kebebasan dalam pergaulan, pada siapa saja, asalkan tidak berbuat menyimpang, kata Sekretaris Istana Alwatzikhoebillah, Sambas, Uray Reza Fahmi.
“Awalnya tidak seperti itu,“ kata Uray Reza. Sejak memasuki bangku SMP, pangeran mendapat pengawasan ekstra dari lima orang kerabat kerajaan yang dipercaya sebagai dewan pembina pangeran Tarhan. Lainnya adalah Uray Barudin Idris, adalah anggota DPRD Kalbar. Uray Burhanuddin, adalah camat Sambas, Ratu Dwi Kencana, adalah adik kandung almarhum pangeran ratu Winata Kesuma, dan Uray Iswadi.
Setiap gerak gerik pergaulan pangeran selalu mendapatkan pengawasan. “Namanya anak-anak, setiap pergaulannya selalu ada yang menyimpang,” katanya. Misalnya selalu ngumpul dengan teman sebayanya, hingga lupa waktu jam belajar. Atau bepergian ke luar kota menggunakan kendaraan bersama temannya, tapi tidak memiliki surat izin mengemudi (SIM).
Setiap kesalahan itu, ia selalu mendapat peringatan dari dewan pembina. Merasa tertekan, pangeran drop. Pernah ia ditemui menyendiri, dengan raut wajah penuh kesal. Lalu, ia berninsiatif memanggil dewan pembina pangeran. Dihadapan pangeran, ia katakan padanya. “Dari kelima dewan ini, mana yang pangeran pilih untuk mendampingi pangeran,” kata Uray Reza. Lalu, pangeran menunjuk dirinya.
Sejak itu, ia bersama dewan pembina lainnya sepakat, bahwa pangeran diberikan kebebasan dalam pergaulan dan menikmati masa pertumbuhannya. “Jika ia berbuat menyimpang, kita akan tegur,” katanya.
Di luar kerajaan, Uray Reza adalah guru SMPN 2 Sambas, juga guru sekolah pangeran Tarhan. Jadi, baik di lingkungan kerajaan, maupun di lingkungan sekolah, pangeran Tarhan selalu mendapat mengawasan dan pembinaan darinya.
Namun, secara khusus untuk melakukan pembinaan dengan menanamkan nilai-nilai perdamaian pada pangeran masih belum dilakukan, karena faktor usia yang belum mendukung. Begitu juga dengan tragedi kerusuhan, pada 1999, meledak. Dimana banyak korban berjatuhan. dimana pada 2001, Bakornas PBP melakukan pendataan, terdapat pengungsi menyemalatkan diri berjumlah 58,5 ribu.
Kejadian itu, Tarhan masih berumur tiga tahun. Dan kini, dari pristiwa itu, Tarhan belum mendapatkan ceritanya.
Kita inginkan, nilai-nilai perdamaian pada diri Tarhan seperti air mengalir. Sesuai dengan pesan ayahnya sebelum meninggal, ketika dihadapkan dengan berbagai pertanyaan, bagaimana mewujudkan perdamaian di kota Sambas, paska tragedi kerusuhan. “Almarhum hanya menjawab, “biarkan seperti air mengalir,” begitu pesanya, kata Uray Reza.
“Saat ini, kita hanya memberikan ruang kebebasan pada Tarhan, baik pergaulan, maupun kemauan yang ia inginkan,” katanya. Biarkan Tarhan menikmati masa anaknya, hingga berlalu. ”Kita tidak inginkan jika kelak pangeran dewasa, baru menikmati pergaulan bebasnya, apalagi Tarhan adalah penerus tahta kerajaan. Ini untuk menghindari stigma masyarakat, terhadap kharisma raja.
Dan justru dengan pergaulannya saat ini, ia akan menemukan sendiri nilai-nilai perdaiaman itu sendiri, di luar lingkungan belajar. Misalnya raja bergaul sama siapa saja, tanpa ada batasan, baik suku, agama dan ras.
Dan untuk menyadarkan bahwa ia adalah raja, biasanya kita ikut sertakan pada setiap ada acara kerajaan, misalnya, pertemuan antar keraton se nusantara, atau setiap acara pembuka event lomba sampan tradisional yang sudah membudaya bagi masyarakat Sambas. Dengan tujuan, memperkenalkan pada masyarakat Sambas pada calon rajanya, kelak ketika dewasa nanti.
Sementara untuk memupuk jiwa kepemimpinan Tarhan, dengan sendirinya Tarhan membentuk sebuah tim futsal, yang ia bentuk dari beberapa teman sekelasnya. Ia juga membentuk tim dayung, yakni tim cruis, kini aktif diterjunkan setiap event perlombaan sampan tradisonal di sejumlah daerah.
Dalam menanamkan nilai-nilai perdamaian konflik pada anak, biarkan seperti air mengalir. Namun tidak bisa lepas dari pengawasan dan pendampingan peran orang tua dan guru. Begitu juga dengan lingkungan sekitar anak.***

0 komentar:

Poskan Komentar